Episentrum Covid-19 berasal dari Wuhan, pusat-pusat industry berasal dari sana. Ketika ada wabah Covid-19, industry yang berkembang di Wuhan ditutup sementara. Padahal wuhan ini merupakan kota industry pesat yang bisa melebihi pesatnya Industri di Amerika. Suply shock terjadi, bahkan demand shock juga terjadi. Hal ini mengkhawatirkan global mengingat cina penduduknya sangat besar yang permintaan kebutuhan impor dari Negara lain menjadi berkurang. Harga- harga komoditi menjadi berkurang karena permintaan dari cina menurun seperti kelapa sawit. Jika dikaitkan dengan isu Globalisasi hal ini cukup menarik, meskipun tidak banyak yang mengulas sebenarnya ini adalah trend baru sistem globalisasi. Trump dengan sloglan American first dan covid-19 membawa trend de-globalisasi. Itali, kasus lebih banyak dari china tetapi justru mendapat hukuman atau tidak mendapat bantuan dari europan union. Donatur yang datang ke italia justru dari Negara-negara NATO. Kemungkinan akan ada pergeseran penguasaan global.

Xi jinpin pernah memberikan statement bahwa “China bersedia membantu AS”dalam menghadapi masalah Covid-19. Asumsi bahwa cina menerapkan strategi menjadi Negara raksasa di dunia hadir ketika cina menjadi donator global dalam hal ini adalah penangana Covid-19. Hal ini dikaitkan dengan penemuan vaksin, semua universitas dan ahli riset berlomba-lomba menemukan vaksin Covid-19. Ada 2 yang utama yaitu Cina dan jepang yang lebih dulu mengklaim telah menemukan vaksi Covid-19. Patut digarisbawahi bahwa kedua nagara tersebut adalah Negara kawasan Asia. Mungkin ini kelak menjadi trend de-globalisasi ada pergeseran arah dari condong ke barat menjadi ke arah Asia. Spekulasi berikutnya kemungkinan ada kelanjutan trade war antara USA dan China. Berbicara soal Indonesia dalam menghadapi Covid-19, saat ini ada 2 pilihan penangananan Covid-19 yaitu melalui karantina wilayah/lockdown dan rapid test. Ada negara yang memang berhasil dengan lockdown, ada pula yang berhasil dengan rapid test. Kuncinya bukan kebijakan lockdown atau tidak, tetapi masif tidak pilihan kebijakan tersebut untuk diterapkan. Singapura dan korea selatan tidak lockdown tetapi melakuakn track kepada masyarakat yang positif Covid-19. Ada pula detektif sipil yang juga melakulan test terhadap orang yang melakukan interaksi dengan pasien positif Covid-19. Negara yg memberlakukan lockdown contoh adalah wuhan dan itali, serta sudah ada 20 negara lainnya. Terakhir afrika selatan dan india yang mengikuti jejak Negara-negara tersebut untuk melakukan lockdown. Kuncinya adalah bagaimana si elemen-elemen di masing-masing negara memberlakukan kebijakan pemerintah dengan disiplin, tidak hanya masyarakat tetapi juga pemerintahnya lebih cepat dalam merespon wabah tersebut.

Perlu kita ingat di bulan januari 2020, itu sudah ada banyak berita tentang wabah ini di wuhan dan Negara lainnya yang terdampak. Tentu kita tahu respons pemerintah saat itu sangat disayangkan. Pemerintah justru memberikan insentif ke wisatawan asing untuk datang ke Indonesia di tengah wabah yang merebak di berbagai negara. Mahfud MD mengklaim indonesia sebagai salah satu negara yg tidak kena korona, hasil penelitian oleh Harvard university menyatakan bawha Indonesia belum ditemukan adanya kasus korona. Pada 25 februari 2020 menjadi kebijakan yang fatal daimana terdapat anggaran 72 milyar untuk influencer menangani virus korona agar masyarakat tidak resah. Pada 2 maret 2020, ada 2 masyarakat Indonesia yang terkonfirmasi positif Covid-19. Pemerintah saat itu, justru tidak mampu menanggapi rangkaian respon media bahkan dar masyarakat Indonesia mengenai bahaya Covid-19. Pada Januari-februari masyarakat padahal sudah mengingatkan. Namun yang terjadi Pemerintah justru mengabaikan respon masyarakat. Akhirnya data pasien positif Covid19 di Indonesia mengalami peningkatan. Bahkan, Menteri Perhubungan terkonfirmasi positif Covid19. Baru dari situ pemerintah mulai agak serius dalam penanganan wabah tersebut.

Namun, sampai detik ini belum ada langkah yang jelas dari pemerintah dalam menangani Covid-19. 2 minggu setelah diberlakukannya Wrok From Home (WFH), sekolah sudah tutup, pekerja harian dan non formal banyak yang kehilangan atau kekurangan penghasilan. Belum terjadi dampak penurunan pasien secara signifikan, hal terbalik justru pasien postif Covid19 meningkat setiap hari. Pemerintah dalam pemberlakuan rapid test jauh dari kata akurat. Baru sekitar 6000 orang yang sudah menjalani rapid test sedangkan di korea selatan 15.000 test/hari. Bahkan, Indonesia juga mengalami kekurangan APD kesehatan yang tidak memadai. Fasilitas kesehatan kita agak tidak disiapkan dengan baik

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *